Perkenalkan: Diogenes dari Sinope, Filsuf Yunani yang Rock ‘n Roll

Lukisan Diogeneses yang dibuat oleh Johann Heinrich Wilhelm Tischbein

Lukisan Diogenes yang dibuat oleh Johann Heinrich Wilhelm Tischbein

 

Mengingat pekerjaan utamanya adalah memikirkan persoalan metafisik yang umumnya jauh dari pemikiran orang awam, mungkin banyak orang beranggapan bahwa para filsuf Yunani adalah orang-orang yang sangat serius. Orang-orang bijak dengan dahi berkerut yang mungkin hampir selalu berpose layaknya The Thinker dari Auguste Rodin.

Tapi ada satu filsuf Yunani nyleneh bernama Diogenes, yang sangat jauh dari gambaran ini.

Sebelum menyelami tindak-tanduk filsuf yang berasal dari Sinope—yang kini merupakan wilayah Turki—ini, ada baiknya tulisan ini diawali dengan ‘awal karir’ Diogenes sebagai seorang filsuf nyentrik. Yakni saat ia ‘membantu’ pekerjaan ayahnya, Hicesias.

Hicesias,  adalah petugas yang bekerja mencetak koin yang menjadi mata uang di Sinope.Alih-alih membantu, ia malah merusak banyak koin tersebut sehingga tak dapat digunakan lagi. Diusirlah Diegoenes dari kampung halamannya. Sang filsuf kemudian hijrah ke Athena. Di sana, sepak terjangnya makin menjadi.

Bila pada umumnya orang segera mencari atau membangun rumah ketika pindah ke satu tempat baru, Diogenes malah menjadikan satu gentong besar bekas wadah anggur sebagai ‘sarangnya’.

Diogenes dalam Gentong oleh Jean-Léon Gérôme

Gentongku, Istanaku (Lukisan oleh Jean-Léon Gérôme)

Tindak-tanduknya ini berpangkal dari pemikirannya yang menghindari ketergantungan atas segala hal yang bersifat keduniawian–satu hal yang melekat pada penduduk kota Athena kala itu. Ia, bahkan menghancurkan satu-satunya mangkok tempat minum yang ia miliki setelah melihat seorang anak minum dengan tangannya. “Bodoh sekali aku, selama ini selalu membawa barang yang berlebihan,” katanya.

Tak hanya itu, lewat perilakunya Diogenes juga ‘mengajarkan’ bahwa kebahagiaan dan kebijaksanaan dapat diperoleh oleh mereka yang bebas dari pengaruh masyarakat. Ia bahkan menolak sejumlah norma yang berlaku kala itu. Saat masyarakat memandang makan di pasar merupakan satu hal yang tabu, misalnya, Diogenes cuek saja makan di tempat itu. Sejumlah catatan juga menyebutkan bahwa ia mengencingi orang yang menghinanya, buang air besar di gedung teater dan masturbasi di depan umum.

 

Dari banyak kisah tentang Diogenes, relasinya dengan Alexander Agung dan Plato merupakan satu hal yang menarik.

Plato, misalnya, terkena sindiran Diogenes pasca mendefinisikan bahwa manusia adalah ‘makhluk berkaki dua yang tidak berbulu’, sebuah definisi yang kala itu mendapat  banyak pujian. Diogenes kemudian membalasnya dengan membawa sebuah ayam yang bulunya telah dicabut ke Akademi milik Plato. “Lihat! Aku membawakan kalian seorang manusia,” ujarnya. Plato, kemudian merevisi definisi yang ia buat sebelumnya, menjadi ‘makhluk berkaki dua yang tidak berbulu dan berkuku datar.’

 

Alexander Mengunjungi Diogenes (W. Matthews)

Tak hanya Plato, Alexander Agung pun ‘diusili’ Diogenes. Alexander  yang kala itu telah menjadi penakluk sejumlah wilayah dunia, datang menemui Diogenes yang tengah berjemur. Alexander menyebutkan ia akan mengabulkan apa pun permintaan sang filsuf. Lalu apa jawaban Diogenes? “Ya, tolong menyingkir dari sinar matahariku,” katanya. Bukannya murka, Alexander malah tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya.

“Kalau aku bukan Alexander, maka aku akan berharap aku adalah Diogenes,” kata Alexander.

“Kalau aku bukan Diogenes, aku juga berharap bahwa aku adalah Diogenes,” jawab Diogenes, memberikan pukulan telak kedua pada Alexander.

Ada catatan lain mengenai perjumpaan keduanya, yaitu saat Alexander melihat sang filsuf tengah mengamati setumpukan tulang manusia dengan serius. “Aku sedang mencari tulang belulang ayahmu, tapi aku tak bisa membedakannya dengan tulang para budak,” kata Diogenes, yang menyiratkan bahwa manusia pada dasarnya adalah sederajat.

Diogenes, meninggalkan sejumlah warisan kepada dunia. Ia merupakan salah seorang tokoh berpengaruh pada mazhab Cynicism.

Tak hanya itu, namanya juga diabadikan sebagai sebuah gangguan mental, di mana penderitanya sama sekali tidak peduli pada diri sendiri hingga derajat yang ekstrim, menarik diri dari lingkungan sosial, apatis, memiliki perilaku menimbun barang yang kompulsif dan tak tahu malu.

 

Entah apa pendapat Diogenes bila ia tahu tentang hal ini. Mungkin, ia hanya akan mengendikan bahu dan kembali tiduran dalam gentong anggurnya.

 

 

Foto dan informasi disunting dari Wikipedia.

 

 

Curiosity

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *