Trypophobia, Fobia Misterius yang Sempat Dianggap Hoaks

Trypophobia. Bagi sebagian orang, satu kata ini cukup untuk membangkitkan visual yang memicu rasa mual, keringat dingin, bahkan gelombang panik.

Sementara tak sedikit orang yang justru masih asing dengan istilah yang pengucapannya sedikit belibet ini.

Istilah trypophobia memang masih terbilang baru. Sejumlah sumber dan artikel media menyebut bahwa kata ini pertama kali dipopulerkan pada 2009. Bukan oleh pakar psikologi atau ilmuwan, tapi justru dari netizen.

Sosok bernama Masai Andrews kerap disebut sebagai orang yang memopulerkan istilah trypophobia, lewat grup Facebook dan situs trypophobia.com yang ia dirikan. Ia meminjam istilah ini dari seorang blogger di Irlandia bernama Louise.

Masih Misteri

Trypophobia berasal dari kata Yunani, trypa (τρύπα) yang berarti melubangi atau lubang, sementara phobos berarti rasa takut. Ya, ini adalah fobia yang dipicu oleh visual yang memperlihatkan lubang-lubang yang jaraknya relatif berdekatan. Mulai dari kulit, koral, sarang lebah, sampai buih cokelat.

Pakar psikologi sendiri, sebenarnya belum terlalu paham soal fobia ini. Penelitian dan pembahasan soal kondisi ini dalam literatur ilmiah juga masih begitu sedikit. Trypophobia juga belum dimasukkan dalam daftar gangguan mental.

Malah pada 2009, Wikipedia sempat menganggap trypophobia adalah hoaks dan hal yang tak masuk akal. Artikel tentang fobia ini bahkan lantas dihapus.

Untungnya, pelan-pelan para pakar psikologi–dan editor Wikipedia–mulai membuka diri. Paper dan penelitian awal soal fobia ini dimulai.

Sebuah makalah dari Juan Carlos Martínez-Aguayo dkk misalnya, memuat pengamatan tentang seorang pasien berusia 12 tahun yang diduga mengidap kondisi ini. Saat melihat benda berbintik atau berlubang, seperti roti tawar, ia mengalami rasa takut tak terkontrol hingga detak jantungnya meningkat, pusing, keringat, tersedak, dan lainnya.

Sementara dalam Fear of Holes dari Geoff Cole dan Arnold Wilkins, dilaporkan bahwa visual yang memicu fobia ini sebenarnya juga membuat masyarakat umum tidak nyaman, walau reaksinya tak separah penderita trypophobia.

Baca juga: Diogenes dari Sinope, Filsuf Yunani yang Rock ‘N Roll

Penyebab Trypophobia

Ilustrasi yoga. Memang tidak berhubungan dengan trypophobia, yang penting pikiran tenang (Photo by Brodie Vissers from Burst)

Ada yang berspekulasi bahwa trypophobia adalah reaksi alam bawah sadar yang “memperingatkan” bahwa seseorang menghadapi suatu hal yang berbahaya seperti penyakit atau hewan tertentu. Hal ini dianggap selaras dengan teori evolusi Darwin tentang survival.

Pendapat ini didukung penelitian Geoff Cole dan Arnold Wilkins, bahwa gambar yang memicu trypophobia memiliki karakter serupa dengan hewan-hewan berbahaya seperti ular dan laba-laba berbisa.

Namun penelitian lain dari sejumlah ilmuwan China yang melakukan tes pada anak-anak prasekolah menemukan hasil yang bertolak belakang. Mereka berkesimpulan bahwa rasa tak nyaman atas gambar-gambar semacam itu baru muncul setelah manusia mulai beranjak besar dan tak berada pada level alam bawah sadar.

Penjelasan lain menyebutkan bahwa gambar pemicu fobia ini mengingatkan kepada sejumlah penyakit kulit atau serangan parasit yang diderita manusia. Apalagi penyakit mematikan yang mewabah di masa lampau memperlihatkan gejala berupa benjolan yang mengelompok atau tanda berbentuk lingkaran di kulit manusia.

Baca juga: Pembunuh Berkapak yang Menghidupkan New Orleans dengan Musik Jazz

Bisakah Diobati?

Ilustrasi yoga lagi. Lagi-lagi untuk menenangkan pikiran (Photo by Matthew Henry from Burst)


Para pakar psikologi memang masih harus berjuang keras dalam memahami penyebab trypophobia. Tapi, mereka rupanya cukup kompak soal bagaimana mengobatinya, meski sekarang belum ada studi resmi mengenai hal ini.

Exposure therapy, yang digunakan untuk menanggulangi jenis fobia lainnya, diperkirakan bisa menjadi salah satu jalan keluar. Seperti namanya, dalam terapi ini pasien akan dipapar dengan pemicu rasa takutnya, tapi dalam kondisi yang terkontrol. Hal ini diyakini dapat mengurangi rasa takut pasien sekaligus antipati terhadap pemicu fobia.

Oke, pertanyaan terakhir: apakah saya menderita trypophobia?

Trypophobia.com menyediakan satu video khusus untuk menjawab pertanyaan ini.

WARNING: Video ini (tentu saja) berisi sejumlah visual yang memicu trypophobia. Play at your own risk.

Sumber:

  1. Phobias The Psychology of Irrational Fear oleh Irena Milosevic, PhD dan Randi E. McCabe, PhD
  2. Fear of Holes, oleh Geoff Cole dan Arnold Wilkins, University of Essex, Centre for Brain Science
  3. Popular Science
  4. Trypophobia: What Do We Know So Far? A Case Report and Comprehensive Review of the Literature oleh Juan Carlos Martínez-Aguayo dkk
  5. Washington Post

Curiosity

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *