Kesaksian Getir Pasukan Belanda di Perang Puputan Badung 1906

Jenazah Raja ditutupi anyaman (Source: By Dutch government – Bali Museum, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=7521591)

Siapa pun yang pernah mengenyam bangku sekolah di negeri +62, seharusnya pernah mendengar tentang Perang Puputan Badung 1906 di Bali. Setidaknya lewat cuplikan catatan dalam bab Perang Kemerdekaan di buku pelajaran sejarah, yang mengartikan bahwa arti perang puputan adalah perlawanan sampai titik darah penghabisan.

Hanya saja, mengingat keterbatasan halaman, pembahasan tentang perang puputan ini terasa begitu singkat dan “kering”. Tak tergambarkan seperti apa kedahsyatan Perang Puputan Badung pada 1906.

Di Bali, Puputan Badung diabadikan dalam sejumlah karya sastra. Sementara dari pihak Belanda, peristiwa dahsyat ini diabadikan dalam sejumlah catatan dari prajurit dan penulis.

Sebagai lawan dari para pejuang Bali pada zaman itu, seperti apa catatan yang dibuat pihak Hindia Belanda? Apa mereka berpandangan negatif atas perjuangan rakyat dan bangsawan di Bali kala itu?

Ternyata tidak juga. Justru dari beberapa wong Londo ini, ada nada kagum dan hormat atas tindakan yang diambil para pejuang di Bali.

Awal Perang Puputan Badung 1906

Sebelum masuk pada kesaksian pihak Belanda, mari mundur sejenak dan menengok sebuah kapal dengan nama Sri Kumala yang berlayar pada 1904 dari Banjarmasin, Kalimantan.

Pada 27 Mei tahun tersebut, kapal ini terdampar di Pelabuhan Sanur. Dari catatan Pemerintah Hindia Belanda, rakyat Bali dituduh menjarah harta benda yang ada di kapal ini, sementara pihak berwenang di Puri Badung dinilai hanya diam saja.

Buntutnya, Residen (perwakilan Belanda di Pulau Dewata) menuntut Kerajaan Badung untuk membayar ganti rugi. Pihak Puri membantah tegas tuduhan ini, dan menolak membayar ganti rugi.

Ketegangan berlangsung sekitar dua tahun. Residen bahkan sempat memboikot barang-barang dagangan masuk dan keluar Badung, selain pengecualian khusus. Raja Badung bergeming. Ia bahkan memperkuat kerja sama dengan Raja Tabanan di bidang pertahanan, sepakat tidak ingin memenuhi tuntutan pemerintah Belanda.

Situasi makin panas. Belanda memprediksi mereka harus melakukan intervensi bersenjata. April 1906, komando tentara diperintahkan untuk melakukan ekspedisi ke Bali.

Peta kerajaan-kerajaan di Bali tahun 1938 (Domain Publik, https://id.wikipedia.org/w/index.php?curid=1808443)

Mengapa Belanda begitu “bernafsu” untuk membuat Raja Badung (dan Tabanan) tunduk pada keinginan mereka? Jawabannya, pengaruh mereka memang lemah di Bali bagian selatan. Pada saat itu Ubud, Gianyar, juga Klungkung, menerima pengaruh kekuasaan kolonial.

Namun sebagai catatan, Kerajaan Klungkung juga kemudian melakukan perlawanan, bahkan terjadi Puputan Klungkung pada April 1908.

Baca Juga: Pembunuh Berkapak yang Menghidupkan New Orleans dengan Musik Jazz

Saksi Mata Belanda No.1: Jenderal Rost Van Tonningen

Pasukan Belanda di Sanur (oleh: Dutch government – “Bali Chronicles” Willard A. Hanna, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=25033032)

Pukul tujuh pagi tanggal 20 September 1906. Inilah hari berdarah, Perang Puputan Badung. Momen saat para bangsawan dan rakyat Badung mati-matian melawan Belanda, dan saat perjuangan ini mencapai titik buntu, mereka memilih untuk menghabisi nyawa teman maupun diri sendiri.

Ada tiga saksi mata Belanda yang merekam detik-detik menegangkan dalam peristiwa bersejarah. Hal ini dirangkum secara detail dalam buku Seabad Puputan Badung: Perspektif Belanda dan Bali yang disunting oleh Helen Creese, Darma Putra, dan Henk Schulte Nordholt.

Yang pertama adalah staf ekspedisi militer Belanda, Jenderal Rost Van Tonningen. Keterangan dari Van Tonningen diterbitkan dalam Majalah Militer Hindia Belanda pada 1910 . Bentuknya adalah catatan resmi yang “dingin” secara emosi, tapi kaya dengan detail pertempuran ini. Soal pergerakan tentara Belanda, serangan musuh, kondisi puri dan perkampungan, hingga jumlah korban.

Dari gelarnya saja, sudah jelas ke mana Van Tonningen berpihak. Salah satunya terlihat pada kalimat yang dituliskannya ini:

“Kebencian terhadap pendekatan damai dari pemerintah menyebabkan mereka tidak melihat adanya jalan keluar lain selalu bersandar pada nilai Bali dalam menyikapi perjuangan terakhir tanpa harapan, yakni mencari kematian.”

Dalam laporannya, ia juga mengklaim bahwa sebagian rakyat Bali “mencari selamat masing-masing dan meninggalkan pemimpin-pemimpin mereka begitu saja”. Usai perang, penduduk Badung ia katakan sungguh-sungguh ingin hidup damai, “dibuktikan dengan sikap kooperatif kepada pasukan kami”.

Ia juga menyebutkan ada penduduk yang mengaku dipaksa oleh utusan raja untuk melawan Belanda.

Pasukan Artileri Belanda melawan tentara Bali di perang Puputang Badung 1906. (Sumber: Dutch government – “Insight Guides Bali”, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=10536439)

Meski sempat menyindir, rupanya ia juga kagum dengan keteguhan hati rakyat Badung.

Van Tonningen menyebut butuh waktu lama untuk meredam semangat para pejuang Badung kala itu. Padahal Belanda telah menghujani musuhnya dengan tembakan sengit dan serangan artileri.

Selain itu, walaupun berada di pihak musuh, Van Tonningen ternyata juga tak bisa menutupi kegetirannya melihat korban yang jatuh akibat peperangan ini. Simak pengakuannya:

“Dalam pemandangan itu terlihat pemandangan yang sangat menyedihkan, karena di antara penyerang yang menyerang dengan penuh keberanian menyerang pasukan dengan senjata terhunus ternyata terdapat banyak wanita sambil menggendong anaknya yang masih menyusui.

Berulang kali mereka diperingati agar meletakkan senjatanya, tetapi tidak dihiraukannya. Setiap tembakan berhenti, mereka yang masih kuat menggunakan kesempatan itu untuk menusukkan keris kepada temannya yang sudah roboh terluka, dan maju sekali lagi.”

Baca Juga: Pria Sopan di Balik Sejarah Penemuan Stetoskop

Saksi Mata Belanda No.2: Cees

Foto tentara Bali yang diambil tahun 1880 (Sumber: Anonymous – Bali Museum, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=53449588)

Seperti van Tonningen, Cees berada di Puputan Badung sebagai pasukan militer Belanda. Namun berbeda dengan pria yang diceritakan sebelumnya, Cees adalah seorang serdadu biasa.

Tak hanya itu. Bila Van Tonningen banyak berbicara soal strategi dan pergerakan tentara Belanda, Cees melakukan “laporan pandangan mata”. Tulisannya pun terbilang lebih singkat dari milik Van Tonningen. Namun, tulisan Cees jauh lebih dramatis.

Di awal tulisannya, ia menggambarkan kondisi kemunculan raja yang muncul dengan ditandu berlapis emas. Payung yang menaunginya pun memiliki semburat warna emas.

Sesaat setelah tandu yang dinaiki raja diturunkan, pasukannya mulai menyerbu tentara Belanda tanpa ragu. Keris dan tombak versus senapan dan meriam.

“Tidak ada kebimbangan, tidak ada usaha untuk menghindari tembakan, tenang dan khidmat, para pendeta berada di barisan depan menghadapi serbuan pasukan. Tembakan infanteri berhenti, mengherankan, karena mereka sama sekali tak takut mati.”

Ada sebuah pemandangan mengerikan yang tampaknya begitu melekat dalam ingatan Cees. Yakni seorang prajurit yang mengacungkan kerisnya tinggi-tinggi dan berkeliling mencari temannya yang belum tewas. Begitu menemukan rekannya, sang prajurit langsung menghujamkan senjatanya ke dada kawannya itu.

Cees juga bercerita ada sekelompok prajurit Bali yang berjalan mendekati mereka sambil mekidung, atau bernyanyi. Begitu mulai dekat, mereka langsung berlari dengan tombak di tangannya, hendak menyerang pasukan Belanda yang bersenapan. Kematian menjemput mereka lewat timah panas dan ujung bayonet yang tajam.

Terlihat dari tulisannya, Cees meyakini betul bahwa wanita dan anak-anak mestinya dijauhkan dari peperangan. Karena itu, ia tampak begitu kaget dan ngeri melihat wanita maupun anak-anak begitu aktif dalam Perang Puputan Badung.

“Aku dengar suara mengaduh lirih. ternyata dua adalah seorang yang masih sangat muda dan lengannya hancur, tergeletak di samping seorang ibu yang sudah tewas, dengan senjata masih di tangannya!

Ada lagi seorang anak yang tidak terluka, diam di dada ibunya yang sudah menjadi mayat dengan kepala yang hancur, menolak air minum yang ditawarkan kepadanya, bahkan minta agar ditembak mati.”

Bayangkan, berhadapan dengan seorang anak kecil yang ibunya baru saja tewas menghadapi dirimu dan kawananmu, sementara ia minta ditembak mati.

Meski berada di kubu yang berseberangan, tersirat bahwa Cees menaruh hormat kepada para prajurit Bali ini.

“Suasana di jalan sekarang sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, selain hamparan orang-orang yang terbunuh dan tewas. Mereka tidak pernah menyesali tekadnya ini. Mereka justru melakukannya dengan ikhlas.”

Baca juga: Perkenalkan: Diogenes dari Sinope, Filsuf Yunani yang Rock N Roll

Saksi Mata Belanda No.3: HM van Weede

Jenazah warga Bali yang gugur dalam Perang Puputan Badung 1906. (Sumber: Dutch government – Bali Museum, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=10513298)

HM van Weede punya latar belakang berbeda dari dua saksi mata sebelumnya yang merupakan orang militer. Ia adalah seorang turis kaya yang kala itu melancong ke India.

Entah apa yang ada di pikirannya, saat mendengar rencana ekspedisi militer untuk menyerang Bali Selatan, Van Weede justru memutuskan untuk berangkat ke Indonesia. Ia meminta izin untuk ikut ekspedisi tersebut sebagai jurnalis.

Van Weede menerbitkan catatatnnya da;am bukunya yang bertajuk Indische Reisherinneringen. Bila dibandingkan dengan catatan Van Tonningen, tulisan Van Weede terasa begitu “manusiawi”.

Tidak hanya berisi detail peristiwa, tapi juga penilaian Van Weede di Badung. Di luar kritiknya soal siasat perang Raja Badung yang menurutnya mengandung beberapa kesalahan fatal, tak sedikit penilaian Van Weede atas peristiwa berdarah ini yang bernuansa positif. Terutama soal mental para pasukan Badung di medan perang.

Bahkan Van Weede sempat terang-terangan meminta prajurit Eropa belajar dari keberanian musuh mereka.

“Dengan tekad yang besar dan keberanian yang luar biasa mereka melakukan perlawanan dan itu dibayarnya dengan kematian. Bagi mereka itu suatu kewajiban sehingga tidak sesaat pun mereka ingin menghindarinya. Dan ini menjadi contoh yang baik bagi orang-orang Eropa untuk dapat bercermin dari mereka.”

Ada banyak pengalaman yang dituangkan Van Weede di tulisannya. Salah satu yang menurutnya berkesan, adalah satu orang Bali yang mengadang pasukan Belanda dengan tombak berlapis emas yang ia hujam ke tanah. Saking berkesannya, Van Weede masih ingat penampilan pria tersebut: tubuhnya berotot, memakai kain putih, dan baju lengan pendek merah serta ikat kepala.

Meski diberondong peluru, pria ini disebut tetap berusaha berdiri tegak tanpa goyah. Akhirnya pejuang Bali ini meregang nyawa karena luka di tubuhnya. Namun sampai saat terakhir pun pria ini masih memperlihatkan semangat juangnya.

“Akhirnya tubuh pahlawan itu membungkuk ke depan bersandar pada tombaknya kemudian tubuhnya goyah secara perlahan dia jatuh terduduk, kejang-kejang dan tombaknya yang berlapis emas itu diangkatnya setinggi mungkin, sebelum akhirnya terkulai mati.”

Gerbang Utama Keraton Puri Agung Denpasar sebelum Perang Puputan 1906 (Oleh Keraton Puri Agung Denpasar – Karya sendiri, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=47484808)

Van Weede juga menceritakan secara detail peristiwa Puputan Badung yang terjadi di halaman depan Puri Denpasar. Saat itu bangunan puri sudah dibakar dan benda pecah belah di dalamnya telah dihancurkan. Keputusan I Gusti Ngurah Made Agung sang Raja Badung sudah bulat: puputan.

Van Weede menceritakan bahwa sang raja, para bangsawan, dan pengikutnya berkumpul dengan mengenakan pakaian indah, dalam nuansa merah atau hitam. Rambut mereka disisir rapi dengan diberi minyak harum. Keris dengan gagang emas bertakhta batu permata terselip di pinggang mereka.

Sementara yang perempuan bersolek dan mengurai rambutnya, serta mengenakan pakaian warna putih. Tua, muda, remaja, bahkan anak-anak yang masih ada di gendongan ikut serta.

Rombongan Raja Badung ini mendekati pasukan Belanda yang memberikan komando untuk berhenti. Tentu saja perintah ini dihiraukan, mereka bahkan bergerak makin bergegas, bersiap menerjang musuh.


Salvo, atau rentetan senapan yang ditembak berbarengan dalam satu aba-aba, akhirnya dilepaskan pasukan Belanda. Beberapa orang dari pihak Badung tewas dalam salvo pertama, termasuk sang Raja Badung yang memilih berada di barisan terdepan. Kala itu Raja Badung masih berusia relatif muda, yakni 30 tahun.

Van Weede mengaku kejadian setelah itu begitu mengerikan untuknya. Pejuang Bali yang terluka ringan menusuk rekan-rekannya yang terluka berat. Ada pula yang mengakhiri nyawanya sendiri.

Seorang lelaki tua berjalan kian kemari di antara jenazah rekan seperjuangannya, menghujamkan keris di tangannya ke tubuh orang-orang yang ia kenal dalam hidupnya, sebelum akhirnya ia sendiri meregang nyawa.

Para wanita berteriak-teriak, menantang pasukan Belanda untuk segera membunuh mereka. Tak hanya itu, para perempuan ini juga melempar mata uang emas kepasa pasukan Belanda. Van Weede memaknainya bahwa para wanita Bali ini memberi bayaran pada pasukan musuh sebagai “balas jasa” karena telah membunuh mereka.

Ternyata ini jauh berbeda dengan aslinya, terlihat dalam “Cerita Seorang Wanita Hamil Muda”, tulisan dari Anak Agung Sagung Putri Agung Kapandayan yang bersumber dari salah satu orang yang selamat dari Perang Puputan Badung, Jero Nyoman Nuraga. Uang emas yang dilemparkan ini telah diberi doa-doa, dan dimaksudkan untuk memberi kutukan kepada I Mata Putih–sebutan bagi orang Belanda dari warga Bali kala itu.

Nyen ja majejarah mai, dumadak tan nemu rahayu (Siapa pun yang berani menjarah kemari, semoga tidak mendapat keselamatan)”, begitu petikan doa yang dititipkan lewat kepingan koin emas itu.

Monumen untuk mengenang Perang Puputan Badung 1906 (Oleh GregRustFan – Own work, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=11468072)

Tak hanya di Puri Denpasar, kejadian serupa terulang di Puri Pemecutan. Gusti Ngurah Pemecutan, raja di daerah tersebut yang telah berusia sepuh dan sakit-sakitan, ditandu keluar dari purinya yang dibakar. Iring-iringan raja berjalan maju menantang musuh, dan akhirnya melepas nyawa mereka, baik lewat peluru musuh maupun ujung keris teman sendiri.

Van Weede mencatat bahwa jenazah Raja tertindih tubuh-tubuh istrinya, pertanda bahwa sampai napas terakhir pun para perempuan ini ingin melindungi pemimpin mereka.

Di pengujung tulisannya, Van Weede mengabadikan suasana sendu saat pertempuran berakhir.

“Pasukan kami berdiri, terdiam menyaksikan peristiwa ini. Mereka hanya bisa mengingat kembali musuh-musuh yang telah gugur dengan penuh rasa hormat.”

Van Weede meyakini bahwa para pejuang Bali yang gugur mendapat surga sebagai penghargaan atas tindakan berani mereka.

Ia juga mendukung wacana untuk membuat tugu demi memperingati peristiwa ini. Hanya saja, gagasan ini menuai penolakan. Van Weede rupanya ikut sedih dengan penolakan ini, apalagi saat mendengar ada yang menyepelekan tindakan orang Bali dalam perang puputan.

“Terlalu menyakitkan waktu ide ini ditentang di surat kabar dengan alasan bahwa raja-raja Badung melaksanakan perintah buruk, dan juga berhubungan dengan pendapat bahwa sikap berani mati yang ditunjukkan secara meluas oleh orang-orang Bali hanyalah sebagai pengaruh opium atau arak yang mereka konsumsi sebelumnya.”

Namun Van Weede mungkin kini bisa tersenyum. Saat ini, di jantung kota Denpasar terletak Lapangan Puputan Badung untuk mengenang peristiwa bersejarah ini. Di salah satu bagiannya, terdapat patung tiga orang berpakaian putih-putih dengan keris dan tombak terhunus, dua orang dewasa dan satu anak-anak.

Sumber:

  1. Buku Seabad Puputan Badung: Perspektif Belanda dan Bali, disunting oleh Helen Creese, Darma Putra, dan Henk Schulte Nordholt. Diterbitkan oleh: Pustaka Larasan bekerja sama dengan KITLV Jakarta dan Fakultas Sastra Universitas Udayana
  2. Wikipedia Penjajahan Belanda di Bali, Puri Agung Denpasar, dan Puputan
  3. A Puputan Tale: “The Story of a Pregnant Woman”
  4. Dari Perahu Sri Komala hingga Puputan; Perlawanan terhadap Pemerintahan Hindia Belanda 190

Bahan bacaan lain: Perang Puputan Badung 20 September 1906

Curiosity

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *