Tarrare Sang Pemakan Segala yang (Untungnya) Tak Punya Channel Mukbang

Coba temukan persamaan antara benda-benda ini: sekeranjang apel, kucing hidup, belut, ular, sampah makanan, baut, anak anjing.

Jawabannya, ini adalah benda-benda yang bisa dimakan oleh seseorang dengan kemampuan melahap makanan yang gila-gilaan, baik soal jenis makanan maupun porsinya.

Namanya Tarrare, pemuda asal Lyon, Prancis, yang hidup tahun 1700-an.

Bayangkan Tarrare seperti ini. (Image by Prawny from Pixabay)

YouTuber kondang seperti Yuka Kinoshita dan Tanboykun dijamin bakal melipir kalau berhadapan dengannya. Untunglah Tarrare lahir mendului era mukbang-mania.

Oh, dan tahukah kamu, selain hal-hal yang sudah disebutkan di atas, Tarrare juga dicurigai pernah memakan seorang bayi?

Tarrare yang Disia-siakan Orang Tua

Namanya orangtua, pasti senang melihat anaknya makan lahap. Tapi tidak dengan orangtua Tarrare. Nafsu makan anak ini, justru membuat mereka mengelus dada.

Bayangkan, saat ABG ia bisa melahap seperempat anak sapi yang beratnya setara dengan bobot tubuh Tarrare sendiri. Alhasil gara-gara tak sanggup memberi makan dan menghidupi, orang tuanya mengusir sang anak dari rumah.

Jangan bayangkan Tarrare bertumbuh tambun atau tinggi besar. Badannya justru terbilang ceking. Umur 17, berat badannya hanya 100 pounds atau sekitar 45 kilogram. Sikapnya disebut-sebut kurang bersemangat dan cenderung apatis.

Pas betul dengan nafsu makannya yang menggila, Tarrare punya mulut berukuran luar biasa lebar. Namun bibirnya tipis, nyaris tak terlihat. Di dalamnya, ada deretan gigi yang benar-benar bernoda.

Kulit pipinya keriput, kendor, dan menggelantung. Katanya, dia bisa memasukkan 12 telur atau apel di dalam mulutnya.

Kalau dia belum makan, kulitnya bakal kendor, bahkan lipatan kulitnya di perutnya bisa dililitkan ke pinggang Tarrare. Tapi setelah makan, perutnya bisa menggelembung seperti balon.

Sekali lagi, seperti balon. (Image by Foto-Rabe from Pixabay)

Badannya juga terasa panas bila disentuh, dan ia selalu basah berkeringat. Parahnya, badan lelaki ini juga sangat bau, bahkan orang tak tahan berada dalam jarak 20 kaki darinya. Bau badan ini makin parah setelah ia makan, mata dan pipinya juga kemerahan. Bahkan usai makan, konon ada uap yang menguar dari badannya.

Patut dicatat, ia tak pernah muntah atau mengalami kenaikan berat badan walau makan sebanyak apa pun juga. Usai melahap santapannya, ia biasa bermalas-malasan. Salah satu makanan favoritnya adalah daging ular.

Di luar semua keanehan dari ciri fisiknya, ada satu hal menarik dari pria ini. Entah apa sampo yang ia pakai, tapi Tarrare punya rambut yang luar biasa halus.

Baca juga: Radithor: Obat Kuat yang Ampuh…Menghilangkan Rahang

Curriculum Vitae Tarrare

Kalau saja Tarrare punya CV, maka kolom “Pengalaman Kerja” miliknya bakal begitu berwarna. Pertama, sejak diusir oleh kedua orangtuanya, ia hidup di jalanan bersama perempuan penjaja seks maupun kriminal. Pekerjaannya? Mengemis atau kalau kepepet ya mencuri makanan. Apa saja untuk bertahan hidup.

Lalu ia “naik kelas”, menjadi pertunjukan pembuka para performer jalanan. Di sini bakatnya mulai terlihat: Ia tampil melahap benda apa pun juga. Binatang hidup, sekeranjang apel utuh, sumbat botol sampanye, sampai batu pun ia lahap.

Tahun 1788, Tarrare bahkan sempat menjadi pengamen jalanan di Paris. Namun sebuah aksinya mengalami kegagalan, ia bahkan harus digotong ke rumah sakit karena penyumbatan usus.

Setelah kondisinya membaik, Tarrare memberikan penawaran unik kepada dokter bedah di sana, M. Giraud. Ia bakal mendemonstrasikan kemampuannya menelan jam dan saku milik sang dokter.

Entah masih sayang jamnya atau geuleuh mendengar penawaran ini, sang dokter menolak Tarrare mentah-mentah. Ia bahkan mengancam bakal membedah perut pria itu untuk mengambil jamnya bila Tarrare nekat mencaplok benda miliknya itu.

Tarrare si Pelahap Maut

Puncak perjalanan karier Tarrare bisa dibilang terjadi saat Perang Koalisi Pertama, dan ia menjadi bagian dari pasukan Prancis. Hanya saja, jatah makan yang ia terima tak bisa memuaskan nafsu makannya. Ia kadang memakan jatah sisa makanan tentara lain, mengais sampah, sampai memakan ramuan obat para apoteker.

Karena pihak militer bingung dengan nafsu makannya yang tak berkesudahan ini, ia pun diserahkan kepada dua dokter ternama, Dr. Courville dan Baron Percy. Keduanya lantas melakukan penelitian “kecil-kecilan”.

Kalau biasanya Tarrare diperingatkan untuk membatasi makannya, kali ini dia dibiarkan bebas merdeka. Ia dijamu dengan makanan porsi 15 orang yang terdiri dari dua pie isi daging ukuran besar, berpiring-piring lemak dengan garam, dan empat gallon (sekitar 15 liter) susu. Setelah makan, ia langsung ngorok sampai keesokan harinya, dengan perut menggelembung.

Dalam kesempatan lain ia disuguhi dengan…kucing hidup. Sedikit peringatan, yang selanjutnya terjadi terlalu sadis, dan seandainya ditayangkan di TV, bakal diberi mosaik.

Sabar, Mpus (Image by JenniferStr from Pixabay)

Ia memegang leher dan kaki si kucing, lalu mengoyak perut, minum darahnya, dan memakan seluruh binatang malang itu kecuali tulangnya. Setengah jam kemudian, ia memuntahkan kulit dan bulu kucing.

Gilanya, melihat ini justru pihak rumah sakit menyediakan hewan hidup yang lebih beragam. Mulai dari ular, kadal, belut, hingga anak anjing. Semua menemui ajal dengan cara serupa.

Di laporannya, Baron Percy berkomentar bahwa bintang-binatang ini seakan sudah mengerti apa yang akan menimpa mereka.

“Anjing-anjing dan kucing-kucing ini kabur ketakutan, seakan mereka telah mengetahui takdir seperti apa yang dia persiapkan untuk mereka.”

Baca Juga: Diogenes dari Sinope, Filsuf Yunani yang Rock N’ Roll

Misi Rahasia

Pihak militer ternyata tertarik memanfaatkan kemampuan Tarrare ini. Ia hendak dijadikan kurir pembawa pesan rahasia. Semacam Mission Impossible, hanya saja versi jauh kurang keren.

Tarrare menerima pembayaran di muka atas jasanya ini: satu gerobak berisi 14 kilogram paru-patu dan ginjal sapi yang langsung dia lahap mentah-mentah di depan para jenderal perang.

Entah seperti apa mimik wajah para jenderal itu. (Image by Eric Labayle from Pixabay)

Intinya, Tarrare diminta menelan sebuah boks kecil berisi pesan rahasia. Saat ia BAB nantinya, boks ini bisa diambil dari kotorannya, dan voila, pesan pun bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

Setidaknya seperti itu rencana awalnya.

Kenyataannya, Tarrare tertangkap pihak musuh dalam misi perdananya. Kala itu ia menyamar menjadi orang Jerman, tapi ia ketahuan tak bisa bahasa Jerman.

Tragisnya lagi, setelah diperiksa, pesan dalam boks itu isinya tak penting, hanya uji coba belaka. Yaitu surat kepada komandan pasukan agar membalas, menunjukkan pesan ini berhasil dia terima. Tarrare lantas dipukuli habis-habisan dan akhirnya dilepaskan.

Ingin Sembuh

Tarrare rupanya trauma dengan pengalamannya ini. Ia kembali ke rumah sakit militer, kepada Baron Percy, berharap bisa sembuh. Ia kemudian diberi berbagai macam pengobatan, mulai dari laudanum (semacam larutan opium), cuka wine, sampai pil tembakau, tapi semua gagal.

Laudanum (Image by Valeg96 – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=69311209)


Untuk menahan nafsu makannya, Tarrare diberi jatah makan telur rebus, tapi hal ini gagal total.

Ia diam-diam sering mendatangi toko daging dan mengais organ dalam dari binatang-binatang yang sudah disembelih. Gilanya, ia pernah tertangkap saat minum darah buangan pasien terapi lintah, bahkan mencoba memakan mayat di kamar jenazah.

Dokter lain yakin pria ini gila dan sebaiknya dibawa ke RSJ, tapi Baron Percy mempertahankannya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa saat seorang anak 14 bulan hilang dari rumah sakit itu, dan Tarrare dituduh telah memakannya. Ia kemudian diusir keluar dari rumah sakit, dan menghilang.

Hasil Autopsi Tarrare yang Mengagetkan

Empat tahun berselang, Baron Percy mendapat kabar tentang dari sejawatnya, M Tessier. Ada seorang pasien yang ingin menemuinya.

Ya, ia adalah Tarrare.

Kondisinya sungguh memprihatinkan. Percy mendiagnosis pasiennya ini menderita tuberkolosis, sementara Tarrare meyakini sakitnya ini karena ada sebuah sendok emas yang menyumbat di perutnya. Sebulan kemudian kondisinya memburuk, dengan mengalami diare yang terus menerus.

Tarrare meninggal tak lama setelahnya, di usia yang terbilang sangat muda: 26 tahun.

Jenazah Tarrare membusuk dengan sangat cepat, dan para dokter menolak mengautopsinya. Tessier yang penasaran akhirnya turun tangan. Hasilnya, Tarrare memang benar-benar berbeda dari luar biasa.

Tenggorokannya sangat lebar. Bahkan kalau rahang Tarrare dibuka, dokter bedah bisa menngintip kanal lebar yang menuju ke perutnya. Tubuh Tarrare dipenuhi lendir, hati dan kantong empedunya berukuran besar, dan rongga perutnya dipenuhi bisul.

Bau dari jenazah ini disebut kelewat menyengat, sampai Tessier terpaksa menghentikan autopsi.

Sendok emas yang dikeluhkan Tarrare, tidak ditemukan sama sekali.

Jadi, Apa yang Salah dengan Tarrare?

Baron Percy berkesimpulan bahwa Tarrare mengalami kondisi yang disebut polyphagia atau hyperphagia. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni banyak (polys), dan memakan alias melahap (phagos).

Hanya saja, tak diketahui apa penyebab Tarrare mengalami kondisi ini.

Dalam catatan sejarah, diketahui ada orang lain yang mengalami kondisi serupa. Salah satunya adalah Charles Domery, seorang pria asal Polandia yang lahir di abad ke-18.

Kisah hidup Charles Domery tak kalah ajaib dengan “rekannya” asal Inggris ini. Di usia 13 tahun ia menjadi tentara dalam Perang Koalisi Pertama yang awalnya membela Prussian.

Namanya tentara yang sedang dalam perang, tentu harus siap hidup prihatin. Namun tidak dengan Charles Domery. Ia memilih membelot ke pihak Prancis gara-gara tak kuat menahan lapar.

Oleh komandan pasukan Prancis, ia diberi hadiah sebutir melon yang langsung ia makan utuh-utuh…bersama dengan kulitnya.

(Image by Shutterbug75 from Pixabay)

Jadi… ada yang berani melakukan “Charles Domery’s Melon Challenge”? Demi konten?

Sumber:

  1. Wikipedia Tarrare dan Charles Domery
  2. London Medical and Physical Journal
  3. Forteantimes.com (archived)

Curiosity

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *